“Dulu saya selalu merasa terjebak di pekerjaan yang monoton. Setiap akhir pekan, rasa bersalah menghalangi saya untuk bersenang‑senang. Sampai suatu hari, seorang teman mengajak saya ikut kelas paralayang. Dari atas, saya melihat betapa kecilnya masalah di tanah. Sejak itu, saya mengadopsi ‘mental helikopter’: tetap tenang, pilih ketinggian yang tepat, dan terbang melewati rintangan.” —